Puisi dan Keinginan untuk Menyatakan Cinta

Cinta, barangkali tema yang paling mudah untuk menulis puisi. Hal itu dapat dilihat dari sebagian besar penulis puisi pada awalnya banyak (belajar) menulis puisi cinta. Terserah apakah puisi-puisi cinta pada akhirnya menjadi pilihan berpuisinya. Banyak juga penyair-penyair besar yang dikenal lewat sajak-sajak cintanya yang dahsyat, misalnya Rilke, Neruda, atau Sapardi. Cinta, tentu saja, banyak arahnya. Cinta kepada Tuhan, orang tua, seseorang tertentu, atau siapa saja. Tapi, cinta yang sering dijadikan “bahan” menulis puisi adalah cinta kepada seseorang, terutama kepada (calon atau mantan) kekasih.




Bagi para remaja, puisi cinta kerap diartikan sebagai kata-kata cinta untuk (calon atau mantan) kekasih. Padahal puisi cinta yang mereka maksud tersebut bukan puisi, hanya sederet kalimat-kalimat rayuan. Kalimat yang saya maksud, sebagai contoh, seperti ini: // Bila malam telah datang, aku memimpikanku // Bila siang menjelang / aku ingin menemuimu / Karena aku mencintaimu //. Saya tak bermaksud mengatakan kalimat-kalimat itu tak berpeluang menjadi puisi yang bagus. Malahan berpeluang sangat bila “diolah” dengan baik. Tapi, yang menjadi masalah, sepotong kalimat tersebut memang bukan puisi. Terlalu klise. Puisi dan kata-kata rayuan memang berbeda. Sangat. Tapi tak tertutup kemungkinan, puisi bisa membuat orang terayu. Itu lain hal.

Lalu seperti apa puisi (cinta) itu? Menurut saya, sebaiknya menulis puisi cinta tak harus dengan menghadirkan kata “cinta”. Puisi cinya yang baik butuh bagaimana si penulis puisi bisa menggambarkan suasana yang memberi aura cinta tanpa harus ada kata cinta. Sama halnya dengan yang lain: kita tak harus pakai kata “bahagia” untuk mengungkapkan bahagia di dalam puisi, tak mesti gunakan kata “luka” untuk ungkapkan luka. Tapi bila kata-kata seperti itu harus tetap dihadirkan, tak jadi masalah juga. Terserah. Itu hak penulis puisi. Tapi, bukankah puisi sebuah ungkapan yang tak langsung? Bukankah ini yang membedakan puisi dengan (misalnya) surat atau pidato?

Sebagai contoh, Rendra juga dikenal dengan penyair yang memiliki sajak cinta yang kuat. Salah satunya “Episode”. Saya kutip seutuhnya:

Kami duduk berdua
di bangku halaman rumahnya.
Pohon jambu di halaman itu
berbuah dengan lebatnya
dan kami senang memandangnya.
Angin yang lewat
memainkan daun yang beguguran.
Tiba-tiba ia bertanya:
“Mengapa sebuah kancing bajumu
lepas terbuka?”
Aku hanya tertawa.
Lalu ia sematkan dengan mesra
sebuah peniti menutup bajuku.
Sementara itu
aku bersihkan guguran bunga jambu
yang mengotori rambutnya.

Bukankah ini sajak cinta yang sangat menarik? Tak ada kata “cinta” di sana, juga tak ada kata “bahagia”. Tapi dapat kita rasa, ada cinta dan kebahagiaan yang terungkap dalam sajak pendek tersebut. Rendra sangat lihai menggambarkan suasana cinta-bahagia dalam sajak episode tersebut. Dengan judulnya “Episode”, barangkali Rendra ingin mengatakan bahwa cinta yang ada dalam sajak tersebut (satu peristiwa) adalah bagian dari kehidupan (peristiwa yang banyak). Banyak makna yang bisa ditafsir dari dalamnya.

Memberi batas yang jelas antara puisi (cinta) dan kalimat-kalimat lain yang sering dicap sebagai puisi cinta agaknya perlu disadari diri sendiri. Tak perlu rumusan. Cukup dengan pemahaman diri sendiri. Selain itu, pemahaman kembali atas batas itu dapat memperbaiki citra yang terkadang buruk terhadap puisi. Di kalangan masyarakat umum, puisi sering dianggap semacam kalimat rayuan, kalimat gombal, sehingga penulis puisi (bila beruntung) dianggap sebagai orang yang romantis atau lebih buruknya: orang yang gombal. Tukang Rayu. Padahal belum tentu seperti itu. Puisi tak hanya tentang cinta. Begitu banyak tema yang bisa dibahas dalam puisi.

Pada beberapa puisi yang bertema cinta, sering ditemukan puisi yang terbebani oleh perasaan si penulisnya, hingga akhirnya, tak ubahnya seperti kalimat-kalimat gombal atau kalimat-kalimat putus asa remaja yang sedang kasmaran. Barangkali si penulis ingin sekali melepas perasaannya, tapi tak mampu menahan emosinya, sehingga terkadang puisi yang ditulisnya itu hanya untuk seseorang yang entah siapa. Seakan-akan puisi hanya untuk dibaca satu orang. Puisi-puisi cinta yang ditulis oleh Neruda, meski ada yang ditulis untuk kekasihnya, tapi tetap dapat dibaca oleh semua orang alias penulisnya tak berbesar ego.

Pada akhirnya, Puisi dan cinta akan tetap bedekatan. Cinta bisa diungkapkan lewat puisi bila mampu mengolahnya dengan baik. Jangan mengatasnamakan puisi bila hanya menulis “kalimat cinta yang klise dan norak.” Cinta dapat “dilempar” langsung bila tak mampu “mengaduknya” dalam puisi. Cinta bisa diungkapkan dengan apa saja asalkan tak merusak cara yang digunakan untuk menyampaikannya, terutama puisi***