Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Puisi dan Promosi Wisata

Barangkali cara terbaik menulis puisi adalah tidak menulis yang lain. Sebab, bila kita juga ingin menulis yang lain seperti pidato atau brosur dalam puisi yang ditulis, sebaiknya pilih salah satu terlebih dahulu: menulis puisi atau menulis yang lain itu. Bila tidak mau, bersiaplah melihat sebuah pidato atau brosur yang disusun seperti bait puisi atau sebaliknya puisi yang sibuk berpidato.

Cukuplah sastra untuk sastra. Saat sekarang ini tidak tepat bila ada yang mengatakan konsep sastra untuk sastra tidak relevan lagi, karena karya sastra yang baik (ingat, yang baik!) selalu membuka diri untuk dimasuki ilmu-ilmu lain, seperti sosial, budaya, psikologi, sejarah, dll. Ini artinya bila sastra memang ditujukan untuk sastra, secara tidak langsung sastra juga untuk bidang yang lain. Menulis karya sastra, dalam hal ini puisi, membutuhkan keikhlasan untuk tidak membuatnya demi tujuan tertentu. Bila ada sebuah tulisan yang disebut puisi sementara isinya tak ubahnya seperti pidato, maka perlu diinggat bahwa karya sastra mempunyai konsep yang berbeda dengan karya lain (non-sastra). Sebagai contoh, bila bidang ilmu sejarah membutuhkan fakta sebagai kekuatan karyanya, sastra juga begitu, tetapi fakta (kebenaran) yang ada dalam sastra selalu tersembunyi atau disembunyikan. Bila dalam pidato, fakta adalah alat untuk memperkuat isi, sastra juga begitu, tetapi fakta (kebenaran) dalam puisi tidak untuk disampaikan secara langsung, tidak dikeluarkan dari mulut si penyair. Biarlah pendengar atau pembaca yang mencari dan menentukan fakta yang terkandung di dalamnya. Puisi yang baik senantiasa menimbulkan interpretasi yang kaya. Bila perbedaan dari kedua contoh yang disebutkan tadi tak lagi ada, lalu apa lagi yang membedakan antara karya sastra dan non-sastra? Apa lagi beda kerja sastrawan dan sejarawan ataupun politikus? Semuanya memang mempunyai tujuan sama: mencerdaskan kehidupan bangsa!

Seorang penyair menulis puisi dengan cara apapun. Bila ada yang bisa menulis setelah meminum puluhan botol bir dan mabuk, itu sah-sah saja. Bila ada yang bisa menulis puisi setelah ada konflik dengan sesesorang, juga tak jadi masalah. Apapun caranya, asalkan puisi yang ia tulis tak menjadi pelampiasan perasaan terhadap cara yang ia gunakan untuk (mendapatkan inspirasi) menulis puisi tersebut. Puisi yang lahir karena proses perenungan-kesabaran dan puisi yang lahir terlalu cepat sangat jelas bedanya.
Seperti yang disebutkan di atas tadi bahwa karya sastra, dalam hal ini puisi yang baik akan menimbulkan interpretasi yang berbeda (kaya), maka hal itu terjadi pada beberapa puisi dari penyair Sumatera Barat yang pernah saya baca puisi-puisinya. Saya yakin, interpretasi yang timbul dari dalam diri saya ketika membaca puisi-puisi tersebut barangkali tak pernah diniatkan begitu oleh penyairnya. Tapi, hal ini tak dapat dipercaya sepenuhnya, karena ada beberapa penyair yang hebat menaklukkan tantangan seperti itu. Pada sejumlah puisi yang pernah saya baca, ada beberapa puisi yang menimbulkan imaji yang membuat tertarik (datang) pada suatu tempat. Bila gambaran yang kita rasakan dalam puisi itu sangat dekat dengan kita, tentu saja sangat mudah mengenalnya. Tapi, bila gambaran itu sangat jauh, barangkali akan menimbulkan kerinduan atau keinginan untuk melihatnya. Bagaimana bila gambaran itu berupa kondisi alam, budaya, dan sosial? Bisakah puisi memberi gambaran tentang indahnya tari piring, panorama alam, atau gambaran tempat-tempat bersejarah? Kalau bisa, apa lagi beda puisi tersebut dengan brosur-brosur pariwisata? Brosur pariwisata adalah salah satu cara untuk menarik minat seseorang ke suatu tempat dan memang itu tujuan utama brosur. Tak ada yang tersembunyi dalam sebuah brosur selain dari keinginan untuk membuat orang tertarik pada apa yang diceritakan di dalamnya. Dalam brosur, bahasa berfungsi sebagai pemberi pengaruh. Bahasa yang digunakan dalam brosur dibuat sebaik dan semenarik mungkin walau terkadang apa yang disebut di dalamnya tak seperti adanya. Brosur yang baik biasanya langsung membuat orang terpengaruh. Lain halnya dengan puisi, puisi yang baik tak sekedar memberi pengaruh tapi juga pencerahan.

Iyut Fitra, Penyair yang tinggal di Payakumbuh. Di sana terdapat beberapa objek wisata (alam, budaya atau kesenian rakyat). Lingkungan adalah unsur ekstrinsik pembentuk karya sastra. Iyut Fitra, dalam kumpulan puisi terbarunya, Dongeng-Dongeng Tua (2009), terdapat beberapa puisi yang menimbulkan gambaran kuat tentang suasana seperti itu, diantaranya: Sirompak Taeh dan Si Bincik. Sirompak Taeh adalah kesenian tradisional di Nagari Taeh, Kabupaten Lima Puluh Kota, sementara Si Bincik adalah sebuah legenda dari Kota Payakumbuh. Saya kutip puisi Si Bincik: // selepas lebuh lurus / di gerbang kota setelah bukit-bukit / padi-padi menguning / angin berdesauan lembut / dan orang-orang berpantun air jernih / dan ikannya yang jinak / di sanalah payakumbuh / negeri gadis-gadis bercanda di tepian / bujang-bujang bersimbur sepanjang pematang / maka tataplah! / jauh ke lereng ngalau / goa-goa pun terhampar sebagai kisah / si bincik / yang didendangkan di tubuh batu menangis… // Kutipan di atas adalah bait pertama puisi Si Bincik. Pemilihan larik selepas lebuh lurus sebagai pembuka puisi ini langsung memberi gambaran sebagaimana memasuki sebuah tempat, setelah itu disambut larik di gerbang kota setelah bukit-bukit padi-padi menguning angin berdesauan lembut dan orang-orang berpantun air jernih dan ikannya yang jinak. Kita dihadapkan pada suasana yang alami, seakan-akan larik angin yang disebutkan dalam puisi itu menerpa muka kita, bukit-bukit dan padi-padi menguning itu terhampar di dekat kita. Setelah itu dikatakannya tempat itu bernama payakumbuh. Iyut tak mengatakan langsung bahwa di Payakumbuh suasananya masih alami, tetapi larik gadis-gadis bercanda di tepian bujang-bujang bersimbur sepanjang pematang memberi gambaran kuat yang lebih dari sekedar alami: ada geliat lain, kondisi sosial yang damai, tentram, tanpa beban, kondisi yang diidamkan banyak orang. Bait pembuka puisi itu diakhiri oleh larik yang menyatakan Si Bincik berada di sebuah gua di Kota Payakumbuh: tataplah! jauh ke lereng ngalau goa-goa pun terhampar sebagai kisah si bincik yang didendangkan di tubuh batu menangis…Sampai pada bait pertama saja kita mendapatkan “informasi” bahwa selain sawah, bukit, di Payakumbuh juga ada gua-gua tempat Si Bincik berada. Dari Puisi tersebut kita tahu ternyata Si Bincik adalah batu menangis. Mengapa Si Bincik menangis? Jawabannya ada pada bait penutup puisi itu: //…helat yang tak jadi / si bincik berteriak di atas kuda / bersisian bayang dengan kursi pengantin, payung dan pelaminan / tak jauh di antaranya, sang ibu pun membatukan diri / dalam doa / berapa kutuk yang harus diturunkan / sebelum sejarah //. Ternyata Si Bincik tak jadi berhelat. Ada hal yang menarik pada bait puisi ini. Si Bincik yang menjadi batu ternyata diturunkan dari ibunya yang juga menjadi batu. Ibu si Bincik menjadi batu tapi bukan sebagaimana batu yang sebenarnya melainkan membatu dalam doanya sendiri: barangkali doa yang tak henti-henti diucapkan, doa yang membuat Si Bincik dikutuk menjadi batu. Atau barangkali ada sesuatu yang lain? Puisi ini menimbulkan penasaran yang hebat dan juga mengasah kepekaan indra kita dalam merasakan sebuah peristiwa.
Tak hanya Iyut Fitra, Penyair lain yang puisinya tak sekedar brosur adalah Esha Tegar Putra. Ia juga penyair dari Sumatera Barat. Dalam kumpulan puisinya, Pinangan Orang Ladang, (2009), terdapat sebuah puisi yang sangat menarik untuk dibaca, yaitu: Penari Piring. Bila dalam brosur pariwisata, tari piring dikatakan semenarik mungkin, tapi apakah kita dapat merasakan perasaan lain yang dirasakan penari piring ketika menari? Bagaimana penari piring menghayati musik yang mengiringinya? Tentu saja brosur-brosur itu tak sanggup memberikannya kepada kita, karena bahasa dalam brosur hanya sebatas penarik perhatian dan tak sanggup mengasah kepekaan sebagaimana halnya dalam puisi dan puisi itu saya kutip puisi itu seutuhnya: // berulang kali diri membilang bunyi piring diketuk kulit damar / saluang ditiup pula oleh para penghela dendang. di mana rahasia / kejadian lama disurukkan? di salempang induk beras, di kopiah / tuan kopi, atau di saku baju para penggetah burung rimba? / dan masih suara piring diketuk kulit damar, tingkah bertingkah / dendang tanjung sani dinyanyikan. tapi alamat diri tetap hilang / terbuang di panjangnya jalan. jalan yang bertarian dua badan / nan dipisah antara rantau dan kampung. apakah itu / bayangan laut tempat pecahan piring diserakkan? //. Kita bandingkan puisi tersebut dengan kalimat awal sebuah brosur: “Tapi piring adalah sebuah tarian yang dimainkan oleh beberapa penari menggunakan piring. Di jari para penari tersebut dipasang cincin dari kulit damar sehingga menghasilkan bunyi yang menarik ketika bersentuhan dengan piring…” Seperti puisi di atas, kalimat brosur ini bersifat informatif, perbedaannya: informasi yang ada dalam puisi tersebut tidak disampaikan secara verbal melainkan tersembunyi dalam setiap lariknya, seperti larik berulang kali diri membilang bunyi piring diketuk kulit damar. Pada larik ini bisa dirasakan bagaimana ketika Si Penari merasakan dirinya mengetukkan kulit damar ke piring. Kita memang tak tahu seperti apa persisnya perasaan Si Penari. Ada pengalaman pribadi Si Penari berhubungan dengan bunyi itu, hal inilah yang dicoba diungkapkan Esha pada larik: di mana rahasia kejadian lama disurukkan? Larik ini mengisyaratkan bahwa Si Penari tersebut mempunyai sebuah kenangan. Kenangan apa itu? Kenangan itu disebutkan pada larik alamat diri tetap hilang terbuang di panjangnya jalan. jalan yang bertarian dua badan nan dipisah antara rantau dan kampung. Ternyata Si Penari tersebut terpisahkan oleh rantau dan kampung. Barangkali ia menari di Rantau dan bunyi saluang yang ditiup para penghela dendang itu turut mengingatkannya pada kampung. Ternyata, kerinduan adalah persoalan jarak yang pada akhirnya membuat Si Penari ragu apakah jarak itu bayangan laut tempat pecahan piring diserakkan? Larik pecahan piring bisa diartikan sebagai bagian akhir dari sebuah tari piring. Si Penari tampaknya ragu apakah tarian itu sanggup mengantarkannya benar-benar pulang kampung.

Dari puisi-puisi di atas jelaslah letak perbedaannya. Puisi-puisi dan contoh kalimat brosur tersebut mempunyai kesamaan: dapat memberi informasi berupa gambaran tentang sesuatu yang menarik (tapi inilah yang menampakkan perbedaan mereka): puisi sanggup membawa kita ke “dunia lain” tanpa harus melupakan bagaimana penari itu menari dan segenap informasi di dalamnya. Puisi sanggup mengasah indra kita, bagaimana dalam puisi Iyut tadi para gadis bercanda di tepian dan bujang-bujang bersimbur sepanjang pematang di dekat gua serta Si Bincik yang menunggangi kuda, bagaimana kisah Si Bincik didendangkan di tubuh batu menangis. Membuat puisi berdasarkan cerita rakyat dan kesenian tradisional (wisata budaya) membutuhkan kerja yang teliti, karena perangkap verbalisme terbuka di mana-mana. Dalam hali ini puisi Iyut dan Esha di atas lepas dari perangkap itu dan kedua puisi di atas telah memberikan nilai lebih. Terlepas dari diniatkan atau tidak oleh penyairnya membuat puisi seperti ini, tidak tertutup kemungkinan nilai yang muncul dari sebuah puisi akan mempromosikan wisata dengan sendirinya (keindahan untuk keindahan). Bila brosur tak sanggup lagi bekerja seperti apa diharapkan, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Apalagi sekarang brosur-brosur (wisata) telah dibungkam oleh kepentingan lain. Jika Seno Gumira Ajidarma menulis bila jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara, maka saya menulis bila brosur (pariwisata) dibungkam, puisi tak sekedar bicara!

Selengkapnya......

Lebai yang Malang dan Lebai yang Berlebihan

Munculnya istilah baru dalam bahasa, salah satunya disebabkan oleh tidak berfungsinya kata-kata lama bagi si penutur bahasa tersebut dalam menyampaikan maksudnya. Tapi hal ini tak bisa dipercaya sepenuhnya, beberapa alasan di antaranya: pertama, kehadiran peribahasa sebagai salah satu alat komunikasi masih tetap relevan sampai sekarang, bahkan peribahasa mampu mengalahkan kalimat-kalimat populer yang tengah berkembang di masyarakat.

Kedua, kondisi sosial suatu masyarakat dapat menambah kekuatan kata-kata ketika diucapkan. Terlepas dari dua penyebab tadi, sampai hari ini kita masih mendengar adanya istilah baru untuk menyampaikan sesuatu pada beberapa kelompok yang memakainya. Di kalangan anak muda ada istilah baru: lebai. Pertama kali mendengar kata ini, saya teringat sebuah cerita tentang seorang Pak Tua yang akan menghadiri dua pesta pada waktu yang sama, tapi Pak Tua itu ragu akan menghadiri pesta yang mana karena kedua pesta tersebut sama-sama menarik dan menghidangkan masakan yang sama-sama lezat. Pak Tua itu pun menghitung kancing bajunya untuk memutuskan pergi ke pesta yang mana. Tapi sayang, kedua pesta tersebut telah habis ketika Pak Tua itu masih menghitung kancing bajunya. Cerita itu berjudul: Lebai yang Malang. Bila kata lebai yang digunakan dalam percakapan para anak muda sekarang berasal dari cerita ini, tentu kata tersebut bermakna kurang lebih tentang seseorang yang ragu, malang, bodoh, sial, dan segala yang berhubungan dengan karakter Lebai dalam cerita tersebut. Untuk alasan ini saya teringat tulisan Eep Saefulloh Fatah, ia mengusulkan untuk menjadikan nama almarhum W.S Rendra sebagai kosakata baru dalam bahasa Indonesia. Katanya, sebagai kata sifat, ”rendra” bisa bermakna sebagai seseorang atau sekelompok orang yang punya keyakinan teguh akan kebenaran yang ia atau mereka perjuangkan serta pandai menjaganya lantaran menolak menjadi pecundang. Tak hanya Rendra, nama almarhum Munir juga diusulkan Eep untuk menambah kosakata bahasa Indonesia, Menurutnya, kata ”munir” dapat dimaknai sebagai ”seseorang atau sekelompok orang yang tak punya rasa takut karena yakin berada di jalan yang benar”. Manakala diberi imbuhan tertentu, ”munir” menjadi kata kerja (memunir, dimunirkan, dimuniri, atau memunirkan) dengan pemaknaan sama (Majalah Tempo edisi 32/XXXVIII 28 September 2009). Contoh dari tulisan dari Eep tersebut sekiranya bisa menggambarkan bahwa ”pemberian makna” sebuah kata baru tidak jauh berbeda dengan asal kata tersebut. Tapi berdasarkan apa yang saya dengar, kata lebai yang sering diucapkan tersebut menyatakan sesuatu yang terlalu berlebihan (over) bahkan lebih dari itu. Saya tidak tahu darimana makna dari kata lebai tersebut muncul. Bila dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, lebai berarti: pegawai masjid di dusun, makna kata lebai dalam kamus tersebut senada dengan apa yang tertulis dalam Hikayat Abdullah yang ditulis tahun 1849 oleh Abdullah bin Abdul Khadir Munsyi (Seorang pemerhati bahasa melayu di Abad 19) dan hikayat ini dicetak di Belanda tahun 1953, dalam Hikayat tersebut, lebai digunakan untuk memanggil chatib. Dalam kamus itu juga ada keterangan tambahan untuk kata lebai malang, yang berarti orang yang selalu bernasip sial. Dari beberapa contoh tersebut tentu saja semakin memberi jarak antara kata lebai yang digunakan anak muda tersebut dan makna yang sebenarnya. Tapi, perubahan makna sebuah kata yang dipakai dalam masyarakat bisa saja terjadi dengan cepat atau lambat dan yang menjadi masalah dalam hal ini adalah mengapa makna kata tersebut bisa berubah menjadi sesuatu yang berlebih-lebihan, tidak ada sesuatu kejadian (penyebab) yang bisa diterima untuk mengamini perubahan tersebut. Untuk hal ini saya selalu bertanya pada orang-orang yang sering saya dengar mengucapkan kata lebai tersebut dan rata-rata mereka menjawab: entahlah—tidak penting dijawab. Tiba-tiba saya teringat sebuah lagu pop yang dinyanyikan oleh T2. Lagu tersebut berjudul ”Jangan Lebai.” Saya kutip lirik lagu itu seutuhnya: di handphoneku penuh oleh pesanmu, di setiap detik dan setiap waktu, katamu kuharus begini kuharus begitu, tak boleh ke sana tak boleh ke situ, aku bisa gila, masa bodoh aku tak peduli, ku tak sanggup, aku pergi. Plis deh jangan lebai, jangan paksa aku tuk begitu begini. Plis deh jangan lebai, kau pikir aku ini siapamu. Plis deh jangan lebai, aku jenuh dengan sikapmu itu, aku bosan dengan aturanmu itu.
Berdasarkan lirik lagu tersebut, saya buat pengandaian, saya beranggapan tidak tahu makna kata lebai itu sebelumnya. Lirik lagu tersebut menggambarkan perasaan aku—lirik yang merasa muak, kebosanan yang teramat sangat karena ulah kamu—lirik yang terlalu berlebihan (katamu kuharus begini kuharus begitu, tak boleh ke sana tak boleh ke situ). Konflik yang terjadi dalam lagu itu diiringi oleh ucapan plis deh jangan lebai. Saya pikir inilah kata kuncinya, lebai yang diucapkan aku—lirik tersebut digunakan untuk menggambarkan sikap kamu—lirik (yang berlebihan) tersebut. Menurut saya, hal inilah yang menyebabkan lebai langsung diartikan sesuatu yang berlebihan, keterlaluan, atau apapun yang menyatakan sesuatu yang terjadi melebihi batas kewajaran. Bila hal ini benar, sayang sekali rasanya bila pemaknaan kata lebai dalam lirik lagu T2 tersebut begitu dangkal. Saya juga curiga apakah pengandaian saya tersebut memang terjadi pada anak-anak muda atau barangkali penulis lirik lagu tersebut yang tidak tahu (?). Dalam hal ini, musik populer menjadi salah satu media untuk mempopulerkan sebuah kata. Syukur bila kata yang dipopulerkan tersebut hanya karena kurang populer, artinya tak ada masalah dengan kesalahan makna. Bagaimana bila yang terjadi justru seperti ”kasus” kata lebai ini. Tentu saja hal ini...

Ah, saya tak ingin melanjutan tulisan ini. Biarlah berlanjut dengan sendirinya, karena sampai di sini saja telah ada beberapa kemungkinan yang terjadi: pertama, Kamus Besar Bahasa Indonesia belum menambahkan kata lebai dengan makna yang baru, kedua, saya terlalu kuper, sehingga tidak tahu perkembangan bahasa, ketiga, sebagian besar generasi muda tidak kritis dalam berbahasa. Entah mengapa saya setuju dengan hal yang terakhir, tapi semoga saja (semua) itu tidak benar. Amin. Amin. Amin.

Selengkapnya......

Alam Takambang Jadi Puisi

Para ahli sejarah sering merujuk karya sastra sebagai sumber sejarah pada zaman karya tersebut dibuat. Kitab Negarakertagama yang ditulis pada zaman Majapahit merupakan sumber penting pada zaman itu. Banyak puisi karya Taufiq Ismail, Chairil Anwar, Wiji Thukul, dan beberapa penyair lainnya dijadikan saksi keadaan Indonesia saat itu. Tentunya penyair-penyair tersebut mewakili peristiwa di zamannya. Di luar negeri, seorang penulis inggris, Graham Greene, “melihat” India dalam novel-novel dan cerita pendek yang ditulis pengarang India, R.K. Narayan. Di Minangkabau, kaba dijadikan informasi sejarah minangkabau. Dan banyak lagi karya sastra di muka bumi yang menjadi saksi zamanya. Namun, timbul pertanyaan, bagaimana karya sastra sebagai karya fiksi dijadikan sumber fakta? Bukankah sastra sangat berbeda dengan sejarah yang harus menyuguhkan fakta?

Tapi secara tersirat, karya sastra yang baik selalu menyuguhkan fakta, baik fakta psikologis atau fakta-fakta lainnya, karena zaman (dalam arti luas) atau lingkungan (dalam arti sempit) mempengaruhi karya pada saat itu.

Di Minangkabau, masyarakatnya menganut falsafah “Alam Takambang Jadi Guru” yang artinya, alam akan selalu memberikan contoh, pelajaran, atau petunjuk bagi masyarakat yang hidup saat itu, tentunya bila kita mau mengembangkan alam itu. Tanpa paksaan, segala aktivitas yang dilakukan tumbuh dari sana. Sekarang patut disimak bagaimana para sastrawan mengembangkan alam tersebut dan tentunya dilihat dari karyanya. Dalam hal ini para penyair dari Minangkabau. Penyair Minangkabau tentu penyair yang “tahu” dengan falsafah alamnya. Alam di sini diartikan tak hanya alam secara harfiah tapi segala sesuatu yang terdapat di minangkabau yang telah menjadi budaya di minangkabau itu sendiri, seperti budaya rantau, pola hidup, cerita rakyat, atau kesenian tradisional minangkabau.


Rantau

/…Kudengar petatah petitih nun jauh / muasal siang dan malam / dan bunyi bansi di pematang / adalah ibu di pagi raya…/ (Ibu di pagi Raya, Delvi Yandra)

/ bundo kanduang melipat hari / sedih sendiri di sudut negri / (Epilog Ranah, C.H. Yurma)

/ Dengan sebutir kampung halaman / kutanam di dalam dompet / kutunggangi peta usang / yang terhampar di tanah lapang… / (Ziarah Laut, Indrian Koto)

Tiga sajak dari penyair muda minang ini agaknya dapat mewakili perasaan anak mudo minang ketika tiba masanya menjadi perantau. Harapan di rantau dan kerinduan akan kampung halaman berbaur menjadi satu. Barangkali karena masih berjiwa perantau, sajak-sajak tentang itu dekat dengan mereka. Dalam sajak Delvi Yandra, Ibu di Pagi Raya, penyair mencoba melukiskan betapa kedekatan seorang anak dengan ibunya terbawa sampai kapanpun, sehingga di rantau kerinduan itu ia gambarkan dengan petatah petitih, bunyi bansi yang terekam dalam ingatannya. Tapi C.H. Yurma tak berbicara soal perasaan perantau. Dalam sajaknya, Epilog Ranah, digambarkannya Bundo Kanduang sebagai orang yang ditinggalkan Perantau, pada akhirnya setiap hari menunggu kedatangan Si Perantau dengan perasaan harap-harap cemas.
Di sisi lain, bila dilihat dalam karya sastra minang, ada pantun tua yang menjadi pedoman untuk perantau: / waang pai ka pakan, / Iyu bali, balanak bali, / Ikan panjang bali dulu, / Kok waang pai bajalan, / Induak cari dunsanak cari, / Induak samang cari dulu. /
(Kalau engkau pergi ke pekan, Hiu beli, belanak beli, Ikan panjang beli dahulu, Kalau engkau pergi berjalan, Ibu cari, saudara cari, Induk semang cari dahulu.) Pantun ini mengajarkan rantau sebagai tempat mencari kerja, bukan untuk kembali pulang. Hal ini ada kaitan interteks dengan sajak Indrian koto, Ziarah Laut, Si aku-lirik mencoba “mematuhi” maksud pantun tua itu walaupun rantau adalah peta usang yang terhampar di tanah lapang.

Kesenian Tradisional

Lalu, bagaimana pula penyair minang menerjemahkan kesenian tradisional dalam puisi-puisinya? Pertanyaan itu dijawab oleh puisi Iyut Fitra. Salah satu sajaknya yang berjudul Palayaran (judul lagu dalam kesenian saluang) mengambarkan kesenian tradisional saluang. Seperti dalam kutipan sajak itu: /… di lapik itu ia terdampar / barangkali tak sebagai nakhoda hilang jangkar / tak pula seorang pengembara yang sasar / “inilah pagurauan!”…/ /… tempat rang pagurau pulang menjelang subuh di ujung jalu-jalu dipuhunkan…/ Dan tak hanya rang pagurau (para pecandu dan penikmat saluang), lapiak gurau (alas tempat saluang diselenggarakan) sampai pantun dalam kesenian saluang pun ada dalam puisi itu. Ketika membaca puisi ini, kita dapat menonton sekaligus mendengar pertunjukan saluang tanpa harus datang ke tempat saluang itu diselenggarakan.

Pola Hidup

Penyair Adri Sandra (Padangjapang) memiliki pandangan lain dalam melihat minangkabau, Ia tak berbicara tentang kesenian tradisional atau hal-hal yang berhubungan dengan keindahan Minangkabau, tapi ia merasakan kekecewaan yang besar terhadap pola hidup dan perilaku orang minang yang tidak lagi bertindak sesuai dengan falsafah “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.” Menurutnya pengaruh budaya barat serta ketidakmampuan orang minang itu sendiri dalam membentengi diri telah membuat situasi yang menyedihkan. Hal itu dapat dilihat dalam sajaknya yang ditulis tahun 2002, Hollywood Kabau. Di sana dikatakan bahwa: /…telah dibuangnya sirih dan tembakau dalam aroma ganja, shabu- / shabu / dan putaw / telah dibuangnya air tawar yang muncrat dari dasar bumi digantikan / harum whisky dan brandy…/ dan di akhir sajak itu ia menulis: /…inilah Hollywood kabau yang dulu Minang / lonceng-lonceng itu kian berdentang / dalam tari-tarian garang./ Dengan pemakaian kata ‘sirih,’ sajak ini seakan menyindir para ‘pangunyah siriah’ (baca: pemimpin minang) yang tak banyak lagi bertindak secara minang. Dalam sajak lain yang berjudul Minang Kabut, Adri Sandra juga menyambung penyampaian kekecewannya tersebut. Bila dalam sajak sebelumnya ia mengatakan bahwa budaya minang dulu kini telah berubah jadi budaya Hollywood (Barat), maka dalam sajak Minang Kabut ia merasa sesal terhadap dampak negative kemajuan teknologi yang mulai merambah segala aspek kehidupan masyarakat: / Sesuatu apakah yang menjelma di tanah beradat ini / genta pedati dan landam kuda telah dimesini…/ dan /…Saluang rabab telah diorgeni / dendang dan gamat telah didangduti…/ Di lain hal, Rusli Marzuki Saria, Penyair gaek ini sepertinya telah meramalkan hal yang dirasakan Adri Sandra itu, Dalam sajaknya Padang Kotaku yang ditulis tahun 1975 , Si aku-lirik mengatakan: /Padang kotaku. Suatu waktu nanti takkan lagi dengar ketipak terompa kuda…/ Tentunya “Padang” yang disebutkan dalam sajak ini kita baca dalam artian Minangkabau. Simbol ‘ketipak terompa kuda’ yang digunakan sangat tepat. Simbol itu memberi gambaran tentang suasana minangkabau yang masih jauh dari westernisasi. Tapi itu dulu!

Cerita Rakyat

Menjadikan cerita rakyat sebagai konsep menulis sebuah puisi merupakan hal yang sangat menantang. Kita ditantang untuk menceritakan cerita rakyat itu dengan “cerita baru”. Jika tidak, kita malah mengulang-ulang cerita lama yang tentunya akan menjadi klise. Gus tf dalam sajaknya, Malin, berhasil menaklukkan tantangan itu. Gus tak lagi menceritakan Malin (Kundang) sebagai anak yang merantau dan dikutuk menjadi batu setelah kembali ke kampung karena durhaka pada ibunya. Sajak itu dikutip, /… Dalam diriku, Malin terbaring di ranjang batu. / /… Suara itu, daging menyeru batu. / Dalam diriku, Malin terkapar di gempur nafsu. / Dalam sajak itu si-aku lirik sepertinya tak peduli dengan Malin (Kundang) dalam cerita yang sebenarnya. Bagi si-aku lirik tersebut Malin (Kundang) tak menjadi batu, tapi hanya terbaring di ranjang batu, dan cuma terkapar di gempur nafsu. Sajak ini membuat kita penasaran mengapa Malin (Kundanng) seperti dalam pikiran si-aku lirik tersebut. Mungkin saja si-aku lirik yang durhaka pada (cerita) Malin (Kundang) tersebut.
***
“Alam Takambang Jadi Puisi” setidaknya memberi gambaran bagaimana beberapa penyair minangkabau mencoba mengembangkan alam dan tak hanya menjadikannya guru tapi juga puisi. Kita tak perlu berharap apakah puisi-puisi tersebut akan menjadi sumber sejarah bagi ranah minang nantinya, karena ketika menulis puisi kita memang tak perlu membawa misi apapun, selain misi sastra. Dan biarlah alam yang menentukan nasib puisi-puisi tersebut. Apakah akan menjadi guru atau barangkali tak menjadi apapun!***

Selengkapnya......