Puisi untuk Penyair

A Tribute to Chairil Anwar


Sebelum senja di pelabuhan kecil, kudengar kabar dari laut,
semacam pemberian tahu lagi penerimaan: cintaku jauh

di pulau. Kepada kawan, jangan kita di sini berhenti. Kita
guyah lemah, tak sepadan
dengan kenangan. Biar kita malam

di pegunungan
dengar suara malam. Selama bulan menyinari
dadanya,
itu bukan lagu biasa. Ini bukan pelarian, tapi

cuma derai-derai cemara yang ingatkan pada rumahku, sorga
dan nocturno. Tahu kamu mana yang terampas dan yang putus

antara doa dan dia, aku berkisar antara mereka. Semangat!


Padang, 2010


Duri dalam Daging

untuk gus tf


Kutanam biji dalam dagingku berharap tumbuh jadi nadi,
biar bisa bunuh diri berkali-kali. Tapi biji malah sembunyi:
seperti kata dalam puisi. Serumpun akar dalam diriku
menjalar-jalar, mencari duri dalam daging:
biji yang ingin tumbuh meruncing.

Payakumbuh—Batusangkar, 2009




Burung yang Terbang dengan Sayap Terbakar
untuk ws rendra

Seekor burung terbang dengan sayap terbakar. Melesat
menukik menghancurkan cahaya memurnikan warna:

bulunya yang biru kuning membuat langit menjadi hijau
dan kicaunya yang biru palsu membuat langit menghitam.

Seekor burung itu terbang dengan sayap yang terus terbakar.
Menukik melesat membentuk cahaya—menyerupai kehilangan.

Padang, 2009